Duka Nelayan Puger Ketika Solar Buat Melaut Langka

Jemberonline.com – SPDN (Solar Peaked Dealer Nelayan) terpaksa mengurangi layanan solar bagi nelayan Puger, dikarenakan stok solar yang sangat terbatas, akibatnya para nelayan sulit mengakses BBM jenis tersebut.

Petugas Operator SPDN Puger, Faitoni mengakui, bila pembelian BBM solar di SPDN Puger ini hanya bisa menggunakan surat rekomendasi yang dikeluarkan pihak pelabuhan.

“Memang kondisi saat ini langka di SPDN. Tapi Kalau tidak bisa membagi, kita arahkan (para nelayan) ke SPBU,” kata Faitoni saat dikonfirmasi di SPDN TPI Puger, Selasa pagi 07/09/2021.

Diakuinya, konsekuensi dari pembatasan itu banyak nelayan yang akhirnya membeli BBM solar ke para tengkulak. Mengingat di sana para nelayan tak perlu antri.

“Sehingga jika nelayan itu tidak bisa beli ke SPBU. Kita arahkan nelayan sendiri ambil ke SPDN. Untuk yang antri ini cuma para nelayan sendiri kok. Kalau alasan SPBU tidak melayani pembelian nelayan, saya tidak paham,” katanya.

Namun lebih jauh Faitoni menyampaikan, dulu pembelian BBM solar bagi nelayan di SPBU lancar dan tidak masalah.

“Pembagian kita enak kok, dulu juga bisa kok ke SPBU. Tapi sekarang tidak boleh, ya tidak tahu,” katanya.

Terkait surat rekomendasi yang harus dimiliki nelayan untuk membeli BBM solar ke SPDN ataupun ke SPBU, dirinya membenarkan hal itu sebagai syarat.

“Untuk pembelian ke SPDN memang harus punya rekom, yakni menjelaskan punya surat kapal. Kalau belum punya, dari pelabuhan ada keringanan. Yakni Harus punya surat Pacak (Izin membuat kapal) yang rekomendasinya dan harus tanda tangan dari Kantor Desa, Kantor Kecamatan, tukang bikin perahu, dan pemilik perahu. Baru nanti pelabuhan bisa mengeluarkan Surat Pacak itu,” jelasnya, kemudian surat rekomendasi tersebut juga bisa diberikan ke SPBU.

“Tapi jika tidak diterima. Ya harus ke SPDN lagi. Dengan kondisi keterbatasan stok saat ini, itulah yang membuat terjadinya kelangkaan. Sehingga mau tidak mau harus berbagi antar nelayan. Agar semua dapat, cukup atau tidak, pokoknya rata,” ujarnya.

Secara rinci terkait pembagian BBM solar bagi nelayan, Faitoni menjelaskan, untuk perahu besar sesuai surat rekomendasi per satu kali kerja 200 liter.

Namun dengan keterbatasan solar saat ini, agar cukup dan rata perahu besar dikasih 100 liter. Untuk kapal sekoci (kapal besar), yang kerjanya dari 4 sampai 5 hari, dengan kebutuhan 400 liter juga dipangkas agar bisa berbagi dengan perahu-perahu yang lain. (dop)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terima Atas Kunjunganya